• DIKENAL SEBAGAI WANITA HEBAT, LAKU KARTINI MEMASYARAKAT

      Jakarta, 20/04/18 17.31

    Siapa sih yang tidak mengetahui Raden Ajeng Kartini, atau dikenal dengan Ibu Kartini si pejuang emansipasi wanita ternyata memiliki kisah hidup yang sangat berkesan. RA Kartini lahir ditengah keluarga bangsawan jawa. Ayahnya seorang Bupati Jepara, RM Adipati Ario Sosroningrat. Ibunya bernama Ngasirah, putri seorang guru agama yang memiliki latar belakang pesantren. Kartini memiliki banyak stereotip baik dari masyarakat pada masanya hingga sekarang. Kisah hidupnya seringkali terdengar pilu, mulai dari terenggut masa kecil Kartini di masa pingitnya, dan sikap membeda-bedakan ayahnya kepada Ngasiroh dengan istri pertamanya.

    Namun meski terlahir dari darah bangsawan dengan berbagai polemik dalam hidupnya, kartini tidak mewarisi sikap feodal ayahnya, wanita hebat ini dikenal bersifat sangat memasyarakat. Hingga salah satu ahli Bahasa pada tahun 1884 mengabadikan nama Kartini dalam bukunya.

    Yass … Nicolaus Adriani, ahli bahasa yang pada 1884 dikirim untuk mempelajari bahasa Toraja, bertemu dengan Kartini dan dua saudaranya, Roekmini dan Kardinah, di Batavia (sekarang Jakarta).

    Kisah pertemuan itu ditulis dalam sebuah buku harian berjudul Depok, September 1900. Diceritakan, pada saat pertemuan itu, Kartini dan dua saudaranya mengenakan kebaya putih dan sarung batik buatan sendiri. “Ketiga-tiganya memakai sarung batik indah, buatan sendiri, berwarna coklat memikat,” tulis Adriani, seperti dikutip Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini.

    Dalam kutipan diatas, tergambar bahwa Kartini dan ketiga saudaranya merupakan anak dari bangsawan yang tidak antipati dengan aktifitas fisik dalam kutipan lain pada sebuah novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dijelaskan Soal Kartini membatik atau membuat batik sendiri ini menarik. Seperti ditulis Pram, tidak hanya membatik, mereka juga mengurus kebun, menjadi koki, merawat keluarga yang sakit, dan lain-lain. Kartini mulai mengenal seni batik sejak usia 12 tahun, ketika dia sudah meninggalkan bangku sekolah dan masuk ke ruang pingitan. Dia belajar pada seorang pekerja tetap di kadipaten. Namanya Mbok Dullah.

    Dalam banyak tulisan, kisah Kartini yang gemar membatik ini membuat dirinya diberikan julukan sebagai Duta Pertama Batik Indonesia, karena ternyata, bukan hanya memiliki keahlian membatik tapi juga Kartini menulis naskah tentang batik. Dalam kesempatan mengisi sebuah stan di sebuah Pameran Nasional Karya Wanita, Kartini berhasil membuat seorang Ratu Wilhelmina tertarik pada Esainya bertajuk Handschrift Japara berisi batik dan detail proses pembuatannya.

    Terbukti, bahwa ternyata Kartini bukan hanya wanita yang hebat menyebarkan semangat emansipasi, tapi juga ia adalah salah satu tokoh yang berperan dalam eksistensi batik hingga saat ini. So ... Yuk Kalian Kartini Zaman Now, jangan mau kalah sama Kartini Zaman Old. Bahwa perempuan juga punya tempat yang luas untuk mengembangkan potensi diri kalian

     

     

     

     

Copyright © 2019 Maxistyle, All Rights Reserved.